Selalu Bersyukur

0 comments




Saya memang bukan dilahirkan dari keluarga yang memiliki kulit putih (baca : kuning langsat), jadilah saya perempuan dengan kulit gelap (baca : sawo matang). Di rumah juga yang kulitnya agak putihan cuma nyokap. Temen-temen juga banyak kok yang bercandain saya, item lah, kelinglah, apalah, tapi saya enggak kenapa-kenapa. Saya enggak pernah masukin ke hati. Saya enggak marah kok. Saya juga menganggap mereka paling bercanda doank. Ada sih sedikit keinginan untuk nyobain 'alat' biar kulit saya jadi putih. Sayangnya, tuh 'alat' mahal harganya. Kalo yang harganya murah, agak diragukan, yang ada kulit saya nanti rusak. Nyokap juga bilang, "enggak apa-apa kulitnya gelap, yang penting bersih." kata-kata nyokap membuat saya jadi lebih bersyukur. Enggak apa-apa punya kulit seperti ini toh itu juga termasuk rahmat dari Tuhan.

Sejujurnya, kalau foto sama orang-orang yang kulitnya putih saya agak merasa jelek dan buluk. Saya merasa begitu karena emang keliatan banget bedanya. Kayak kopi dan susu. Namun saya tetap pada pendirian dan menganggap, enggak apa-apalah keliatan buluk yang penting tetep bersyukur.

Yap, saya tetap bersyukur dan enjoy aja dengan semua ini. Saya tetap pada pendirian, bukan kulit yang bikin cantik, tapi hati dan manner. Kalau kita punya inner beauty yang kuat pasti kecantikan akan terpancar dengan sendirinya. Buat apa cantik di wajah, mulus di kulit tapi enggak punya inner beauty dan kelakuannya minus, bakalan kelihatan jelak kan? jadi perempuan berkulit gelap juga bisa membuat laki-laki terpesona dengan inner beauty-nya. Sayangnya itu pemikiran saya, bukan pemikiran dari banyak lelaki. Dan saya pun mulai terpuruk dengan keadaan ini. Yah, saya merasa benar-benar TERPURUK. Pemikiran saya tentang kulit gelap juga bisa terlihat cantik langsung terpatahkan secepat kilat menyambar bumi. "Bagi gw, cewek putih itu cantik" update-an twitternya kemarin. Tau siapa yang bilang begitu? dia adalah orang yang paling saya suka. Orang yang sudah lima tahun bertengger di hati saya. Tega banget dia bilang begitu, sebenarnya sudah dua kali dia bilang begitu. Sebenarnya, waktu dia pertama bilang begitu saya enggak sakit hati, baru yang kedua ini yang rasanya tuh 'jleb' banget. What the hell you are? Sakitnya tuh lebih sakit ketimbang dia enggak bales sms saya atau dia lagi naksir cewek. Sakitnya sampai ke ubun-ubun. Rasanya saya pengen bilang, "Tuhan, kenapa kulit saya gelap?" Kalau dia sudah bilang begitu, sudah pasti harapan saya kecil. Harapan untuk dianggap cantik sama dia. Mau bagaimanapun saya mencoba untuk masang avatar atau profil picture yang sayanya keliatan cantik juga enggak bakalan bisa mengubah pemikirannya. Lo bener-bener udah nyakitin gw.

Tuhan, sekarang saya harus bagaimana? haruskah saya berusaha memutihkan diri? apakah mungkin Tuhan? Saya enggak mau melawan kodrat mu.

Dan haruskah saya bersyukur dengan keadaan ini? pupus....semuanya pupus.

Mungkin dia emang lelaki jerk. Sengatan besar itu membuat saya percaya bahwa dia memang benar-benar enggak bisa menerima saya apa adanya, seperti saya dapat menerima kekurangannya. Saya menganggap dia adalah lelaki sempurna, lelaki yang cocok untuk menjadi imam. Tapi....

Kalau sekarang saja dia sudah punya mindset perempuan cantik kulitnya putih, hmm saya enggak bisa jamin kalo berumah tangga dengan saya dia akan menerima saya apa adanya.

Well, saya enggak boleh menyalahkan kodrad. Saya mesti bersyukur dengan kulit gelap ini. Tuhan pasti punya rencana yang lebih indah buat saya. Meskipun banyak lelaki diluar sana yang enggak berminat dengan saya yang berkulit gelap ini tapi saya tetap yakin Tuhan pasti telah menyiapkan seseorang yang dapat menerima saya apa adanya. Dan dengan sudut pandang yang menganggap saya cantik.

Dulu, mantan saya juga bisa kok menerima saya apa adanya. Dia enggak mandang kulit saya. Dia bisa melihat saya sebagai wanita cantik. Dia adalah cowok hebat. Kenapa saya mutusin dia? nih yah saya bongkar rahasianya, sebab setelah tiga bulan jadian, dia makin jarang sms saya, bahkan dia jalan-jalan ke Jogja sama temennya juga enggak bilang-bilang. Neneknya meninggalk juga enggak sms saya. Saya merasa emang dia udah mulai menjauhi saya, tidak seperti hari0hari pertama pacaran. Dia enggak berusaha ngajakin berpergian berdua. Enggak ada usahanya sama sekali. Kalau saya diam, dia ikutan diam. Kalau saya cuek dia ikutan cuek. Jadi, saya meragukan kalau dia memang benar-benar menyayangi saya. Saya enggak bisa melanjutkan hubungan yang hanya indah diawal saja. Daripada sama-sama tersakiti lebih baik kita berpisah saja.

Hmm.....pasti ada saatnya saya bahagia. Dan maaf buat Monik, tadi saya sempat tersinggung sama gurauannya. Andai kamu mengerti.....

Terima kasih Tuhan karena engkau telah memberikan hamba kesabaran, nikmat, dan rezeki yang tiada habisnya. Maafkan jika hamba pernah mengeluh, maaf jika hamba pernah meragukan kasih sayang-Mu. Hamba mohon ampun.....


Ady - Cinta Memilihmu

Janganlah menghindari aku
Kuingin kau di sini
Tak bisakah kau terima
Bila ku tak sempurna

Saat ku pandang bintang-bintang
Lebih indah dirimu
Cahayanya memang terang
Tapi dirimu itu menakjubkan

Tahukah saat godaan datang
Aku pilih kau
Tahukah saat ku hilang arah
Aku pilih kau
Dan berakhirnya di dirimu

Sesungguhnya ku tak memilih
Cinta lah memilihmu
Takkan pernah kuhindari
Karna dirimu buatku bahagia

Tahukah saat godaan datang
Aku pilih kau
Tahukah saat ku hilang arah
Aku pilih kau
Dan berakhirnya di dirimu

If you like this post, please share it!
Digg it StumbleUpon del.icio.us Google Yahoo! reddit

No Response to "Selalu Bersyukur"