Posted by tarydewe in
Ini postingan pertama saya di bulan April 2012 :)
Mengutip pembicaraan di waktu senggang sore tadi dengan Reni dan Eka, Reni bilang "Ih, udah lama enggak naksir cowok,"
Saya dengan lugunya menanggapi pernyataannya, "Gue terakhir suka naksir cowok setahun lalau," (padahal enggak ada yang nanya juga).
Well, memang benar adanya terakhir saya naksir Mate, kalo dihitung-hitung sudah setahun yang lalu, itu pun cuma naksir biasa aja enggak dimasukkin kehati. Kalo yang masuk kehati yah pas naksir sama Aby, itupun sudah 2 tahun yang lalu.
Waktu jaman saya kuliah, naksir cowok itu sama seperti masuk tahun ajaran baru, alias sering. Begitu mudah menemukan cowok tampan di kampus, apalagi kampus saya kan di tengah kampus paling beken se-Indonesia sudah pasti banyak cowok-cowok kece bertebaran. Masuk di dunia kerja, intensitas saya untuk ketemu cowok kece mulai menunjukkan penurunan, paling kalo enggak ketemu di kereta yah pas lagi liputan aja, tapi masih belum bisa dikategorikan sering. Semisalnya ketemu pun, yah paling cuma pas di moment itu saja ketemunya. Trus, kapan donk saya bisa ketemu jodoh saya??
Beberapa minggu lalu, saya dan dolly sempat tenggelam dalam topik pembicaraan seru mengenai jodoh. Dia berkata bahwa jodoh lo belum bisa dateng kalau lo belum siap menerima kehadirannya. Saya percaya betul dengan kalimatnya itu. Tuhan masih menyimpan jodoh saya, Dia tahu saya belum siap. Memang untuk saat ini saya belum memikirkan tentang jodoh, hanya sedikit-sedikit terlintas pertanyaan siapa jodoh saya nanti? Bagaumana parasnya? Dan serentetan pertanyaan bodoh lainnya. Kenapa saya belum siap untuk kedatangan rahmat dari Allah yang satu ini? Soalnya saya masih ingin mengejar mimpi, sebagai anak pertama saya harus bisa membahagiakan orang tua saya dan menjadi teladan untuk kedua adik saya, jadinya pada saat saya membina rumah tangga mereka sudah merasa senang. Huallahualam, cuma Allah yang berkehendak, sebagai manusia saya hanya bisa berharap.
Alasan selanjutnya adalah orang tua saya belum mengijinkan saya untuk menikah diusia yang masih terbilang muda. Mereka tidak ingin saya membina rumah tangga dan masih ngerepotin orang lain. Mereka ingin saya kejar dulu mimpi saya -sebenernya balik lagi sih ke alasan pertama.
Dimanapun dia Tuhan, berikanlah yang terbaik untuk kami :)
Jodoh akan datang kalau saya sudah siap menerimannya, lantas yang menjadi tolak ukur saya sudah siap itu seperti apa ya? Sejujurnya saya belum mengerti, mungkin suatu saat nanti pasti saya merasakan ya.
Beberapa minggu lagi salah satu teman kuliah saya ada yang mau menikah, dia bertemu dengan calon suaminya melalui proses Ta'aruf. Ini nih yang membuat saya tambah bingung, kalau seseorang Perempuan sudah dikhitbah (lamar) lelaki maka pantang baginya untuk menolak. Mungkin teman saya ini sudah siap lahir batin kali yah buat nerima jodohnya, sehingga ia menerima lamaran lelaki tersebut. Saya suka sistem perjodohan itu, dimana lelaki dan perempuan akan dipasangkan, mereka dipilih, jika mereka baik maka akan dipasangkan dengan yang baik. Saya pernah dengar sistem taaruf ini sedikit, semoga enggak salah, ada lelaki yang hendak melamar saya, dia wajib menemui guru ngaji saya atau teman dekat saya. Mereka nanti yang akan menilai apakah yang melamar saya cocok dengan saya, akhlaknya baik atau tidak. Untuk itu saya tidak perlu takut mengenai sifat lelaki tersebut karena ia sudah diseleksi oleh pihak-pihak ketiga.
Kenapa saya suka sistem seperti ini? Karena saya tidak perlu meragukan akhlaknya, orang ketiga sudah cukup menilai lelaki tersebut baik atau tidak untuk saya, kalau baik yang berlanjut kalau tidak yah mungkin lain waktu. Proses taaruf ini tidak hanya dimulai oleh laki-laki namun perempuan juga banyak yang berani mengambil ancang-ancang terlebih dahulu. Pastinya sayabukan salah satu perempuan pemberani itu :p
Sekali lagi, saat ini saya belum butuh pendamping. Yang saya masih saya butuhkan adalah teman, uang, dan pekerjaan hehe. Ketiga aspek ini yang masih membuat saya senang. Sayangnya selepas kuliah pertemanan saya dengan beberapa teman dekat semakin luntur, hanya menyisakan teman-teman sehati saja. Yah mungkin sudah beda pergaulan kali yah? Entahlah, pastinya saya tetap akan mempertahankan hubungan pertemanan yang minim ini, yang penting mereka masih mau berbagi cerita dengan saya. Teman sejati adalah teman yang akan selalu berada di belakang, di samping, dan di depan kita, bukan teman yang posisinya ada diatas ataupun dibawah. Maksdunya, ia akan menjadi pedoman, penyemangat, dan tempat berlabuh dalam suka maupun duka bukan teman yang selalu memerintah atau teman yang menjadi pijakan kita.
Terakhir yang saya bingung yah, kenapa dari jodoh jadi ketemen deh.....jauh ya!!


No Response to "Selamat Datang Jodoh"
Post a Comment