It's time to work

0 comments



Kalau dihitung-hitung bulan Mei ini tepat satu tahun saya bekerja di Majalah Bakery Indonesia. Enggak terasa sudah cukup lama saya mengabdi ditempat tersebut. Sudah banyak tulisan saya yang dimuat, dibaca oleh khalayak, dan dibayar. Namun yang menjadi pertanyaan besar saya adalah, apakah saya sudah bisa disebut seorang jurnalis?

Okey, mari kita kaji apa saja yang telah saya lakukan 12 bulan kebelakang. 

Setahun menjadi juru tulis di majalah yang belum memiliki konsep membuat saya harus mengelus dada, saya benar-benar learning by doing. Saya merasa belum mendapat ilmu jurnalistik apa-apa. Saya menulis hanya sekedar menulis, tuntutan pekerjaan, dan deadline. Yah, mungkin ilmu tentang bakery yang bisa saya serap, selebihnya. Just, learning by doing!

Sebenarnya lamaran pekerjaan juga sudah saya sebar di berbagai perusahaan media cetak lewat internet, tapi kenapa saya enggak dipanggil-panggil ya? Penasaran, saya pun nekat mendatangi langsung perusahan media cetak yang sedang membuka lowongan pekerjaan, salah satunya perusahaan yang saya ceritakan dibawah ini.

Saya pernah melamar pekerjaan sebagai reporter di salah satu stasiun TV swasta kurang ternama di daerah Mangga Dua. Saya dan Ria memberanikan diri untuk datang perusahaan itu. Di sana saya dan Ria tidak perlu menunggu lama karena hari itu juga kami langsung di interview. Enggak ada persiapan khusus, kami berdua mencoba mengerjakan soal-soal 'ujian' dengan modal nekat.  Hasilnya, saya belum bisa bergabung dengan mereka, begitu pula Ria. Belakangan saya tahu si Ria mendapat tawaran kerja di stastiun TV tersebut sebagai HRD, namun Ria menolaknya. 

Sekitar satu bulan lalu saya juga dapet panggilan interview disalah satu perusahaan media cetak ternama di Jakarta. Panggilan interview tersebut adalah panggilan kerja pertama kali dalam hidup saya setelah lulus kuliah. Orang yang mewawancarai saya bilang ada empat tahap yang harus saya lewati, tapi boro-boro nyoba semua tahan, lah tahap satu saja saya belum berhasil. Well, seperti yang sudah bisa diduga, saya belum bisa masuk ke perusahaan tersebut. Mungkin orang HRD nya belum sreg sama tulisan-tulisan saya kali ya, intinya saya belum bisa bergabung dengan mereka.

Sedih? sudah pasti. Dengan kejadian tersebut membuat pertanyaan besar yang sudah saya jelaskan diatas mulai bekecamuk di pikiran saya. Apakah saya sudah bisa dibilang sebagai seorang jurnalis? kenapa saya belum bisa bergabung dengan perusahaan teresebut?

Kalau ditanya nih ya saya memang ingin seumur hidup dimajalah ini? saya akan jawab tidak. Hati saya masih ingin bekerja di perusahaan media cetak tempat saya magang dulu. Saya pernah mengirim surat lamaran ke perusahaan tersebut lewat email. Nasib, belum ada panggilan sampai sekarang. Mungkin saya harus memberanikan diri datang kesana, kalo bisa langsung ketemu sama orang HRD-nya. Syukur-syukur saya bisa diterima kerja disana. Tetapi, kalau saya masukin lamaran pekerjaan disana, saya mau memilih bidang pekerjaan apa saya masih bingung. Soalnya kalau disana saya dikenal sebagai tenaga lepas bagian desain, beda sama pekerjaan yang saya lakoni. Kalau saya memilih pekerjaan sebagai wartawan, hmm di media cetak yang itu aja enggak masuk, apalagi media cetak sekaliber perusahaan ini. Aaaaahhhhh saya bingung. Lebih bingung lagi kenapa orang-orang di tempat saya magang dulu enggak manggil-manggil saya lagi buat kerja disana. Yah, saya sadar sih kontrak saya memang sudah habis, tapi kan..masa enggak ada lowongan? cuma itu kesempatan yang saya punya biar bisa gabung di perusaahn impian saya itu.

Saya belum mencoba untuk mencari-cari lowongan pekerjaan lagi. Saya masih harus menata diri dan memperbaiki bahasa inggris. Insya Allah, kalau saya sudah kaya ilmu saya pasti bisa bekerja di perusahaan impian saya. Dulu mungkin saya ingin mencari pekerjaan karena honorium sebagai kontributor tidak mencukupi, nah sekarang saya sudah tidak dibayar sistem honor lagi, melainkan sudah gaji tetap. Gaji tetap ini lumayan lah bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari. Saya jadi bisa nabung hehe.

Saya mencoba mensyukuri keadaan ini, keadaan dimana penghasilan saya mungkin  lebih besar ketimbang yang lain. belum tentu perusahaan besar mau menggaji saya seperti gaji yang saya dapatkan diperusahaan ini.    Jadi, untuk sekarang-sekarang ini saya akan gunakan gaji saya untuk memperoleh ilmu dulu sehingga saya dunia luar bisa menerima saya.

Jujur, saya sangat menyukai pekerjaan ini, pekerjaan sebagai seorang jurnalis. Ada rasa bangga bila seseorang bertanya kepada saya, pekerjaan saya apa? dan saya menjawab saya adalah seorang Jurnalis. Saya enggak ingin keluar dari jalur ini, jalur yang sudah saya pilih sejak kuliah. Bagi saya menjadi seorang jurnalis adalah tipe pekerjaan paling fleksibel dan paling kredible. Saya bisa pergi kemanapun, bisa bertemu orang-orang baru, dan setiap harinya saya bisa memperoleh ilmu baru. Sesuai dengan sifat saya yang enggak bisa terpaku di satu tempat. Menjadi jurnalis adalah salah satu impian saya.

Untuk itu, saya mesti belajar banyak menjadi seorang jurnalis, bagaimana cara kerjanya, dan bagaimana cara memperoleh gelar jurnalis seutuhnya, saya enggak mau hanya bisa menulis saja harus ada ilmu yang saya peroleh. Saya harus bisa seperti Pak Jacob Oetama atau Andy F Noya. Yeaah!!

If you like this post, please share it!
Digg it StumbleUpon del.icio.us Google Yahoo! reddit

No Response to "It's time to work"