Posted by tarydewe in

Kadang pemikiran bahwa hidup harus reaslistis tidak hinggap di pikiran saya. Saya lebih senang bermimpi dibandingkan dengan menjalankan apa yang sudah ada. Realistis atau bukan saya tetap ingin mimpi saya itu terwujud, meskipun sesekali saya ragu apakah mimpi saya benar-benar akan menjadi hal yang realistis? bisa diraih dan bisa dipertanggung jawabkan? atau hanya seterusnya menjadi khayalan klasik saja. Buat apa punya mimpi kalau kita sendiri tidak bisa mengubahnya menjadi sebuah realita.
Kadang buayan mimpi yang begitu sempurnya membuat saya serasa terbang diawang-awang, menuju ke dunia yang benar-benar tiada celah buruknya. Membuat saya terlena dan enggan untuk kembali ke dunia nyata. Sejauh dan sebanyak apapun saya berharap sebagiannya hanyalah mimpi belaka.
Saya yakin seratus persen banyak orang yang seperti saya, punya banyak mimpi. Dulu waktu usia saya masih terbilang kanak-kanak saya sudah memiliki mimpi ingin menjadi seorang arsitektur. Teman-teman saya banyak yang ingin menjadi dokter, pilot, guru, bahkan ada yang ingin menjadi model. Namanya juga mimpi masa kecil, pastilah akan berubah sesuai dengan realita yang ia dapatkan. Dan sampai sekarang belum ada tuh teman kecil saya yang terwujud cita-citanya menjadi seorang dokter, atau pilot, yah kalo guru ada beberapa.
Dan kalau saya, yah bisa anda lihat sendiri sudah melenceng jauh dari mimpi hehehe. Kenapa? sebenarnya saya bisa saja mewujidkan cita-cita saya sebagai seorang arsitek, namun kembali lagi saya harus berjuang dengan realita yang ada, dan akhirnya saya terpaksa berputar arah. But, mimpi saya tidak hanya sebatas itu saja sebab setiap saat setiap waktu saya pasti bermimpi. Saking seringnya mimpi saya sampai sulit membedakan mana kenyataan dan mana yang bukan. Selentingan singkat mimpi bisa membuat saya menjadi lebih maju namun juga kadang bisa membuat saya terpuruk karena ternyata mimpi saya bukanlah sesuatu yang bisa direalisasikan (contoh yang saya sebutkan diatas), bukan yang saya maksud adalah ada beberapa faktor yang membuat impian saya pupus ditengah jalan entah itu dari diri sendiri, atau dari lingkungan luar. Kedua faktor ini yang menjadikan mimpi bisa bertolak belakang dengan realitas. Anehnya saya belum jera bermimpi, saya masih bahkan intensitasnya menjadi lebih sering bermimpi. Berjudi dengan waktu apakah saya dan mimpi saya yang menang ataukah waktu dan realitaslah yang akan menang.
Hari ini, didepan komputer ini pun rasanya saya masih sedang bermimpi. Entah mimpi apa, begitu menggebu, dan menghanyutkan. Sayangnya saya masih ragu untuk mendefinisikannya. Lidah ini sekejap kelu, sulit berucap. Tidak banyak kata-kata hanya sedikit doa semoga mimpi saya bisa menjadi sebuah realita. Begitu dahsyatnya mimpi, pokoknya jangan sampai anda hidup tidak punya mimpi. Sebab hanya mimpilah yang mampu membawa anda ke dunia yang anda inginkan :)
Aamiin
-Renungan singkat dikala penat mengingat mimpi amat dekat dan kadang bisa bikin nekat :)) apaseeeehhhhh!!!


2 Response to Mimpi vs Realistis
ayo tariiiii realisasikan mimpimuu :*
hahhaha sama2 da, realisasikan mimpi kita :))
Post a Comment