Posted by tarydewe in
The hardest partAnd the hardest part
Was letting go, not taking part
Was the hardest part
And the strangest thing
Was waiting for that bell to ring
It was the strangest start
I could feel it go down
Bittersweet, I could taste in my mouth
Silver lining the cloud
Oh and I
I wish that I could work it out
And the hardest part
Was letting go, not taking part
You really broke my heart
And I tried to sing
But I couldn’t think of anything
And that was the hardest part
I could feel it go down
You left the sweetest taste in my mouth
You're a silver lining the clouds
Oh and I
Oh and I
I wonder what it’s all about
I wonder what it’s all about
Everything I know is wrong
Everything I do, it's just comes undone
And everything is torn apart
Oh and it’s the hardest part
That’s the hardest part
Yeah that’s the hardest part
That’s the hardest part
the hardest part - coldplay
Hujan kali ini menjadi gambaran isi hati saya. Saya menangis. Saya sedih dan saya kesal. Saya tidak tahu harus mulai cerita dari bagian yang mana. Sekali lagi, ini masalah hati. Masalah saya dan keterpurukan cinta yang saya miliki. Tadi sore saya online, seperti biasa apabila ada kesempatan online saya selalu “mengintip” facebook-nya Shimy-shimy (udah lama gak pake nama ini). Saya mencari tahu kabar dia saat ini. Pertama dia update status, biasalah ngecengin temennya. Dan mata saya sangat sakit sewaktu membaca wall dari temannya. Isinya kurang lebih seperti ini “yah, gw aja belum dapet cho, lo aja yang ke UI. Main ke Psikologi, disana lo bisa pilih cewek yang lo mau.” Anj*ng banget.
Shock? Pasti. Rasanya dunia ini ingin saya bakar. Saking kesalnya, saya pun menangis sejadi-jadinya di dalam kamar. Betapa ingin rasanya saya bilang kepadanya kalau dia tidak perlu susah mencari perempuan, ada saya disini. Namun, dia sekalipun tidak pernah melihat saya. Tak terasa bantal yang saya tiduri sudah basah oleh air mata saya. Dengan segera saya meraih Handphone saya dan saya melakukan hal gila. Saya terpaksa me-remove dia, baik di Facebook maupun di Twitter. Saya tidak mau berhubungan lagi dengan dia. Apalagi mencari tahu kabarnya. Keputusan ini saya ambil karena saya lebih baik tidak mengetahui apa-apa dari pada saya harus merasakan sakit yang lebih lagi apabila suatu saat saya melihat statusnya telah berpacaran. Sebelum itu terjadi saya harus melupakan dia terlebih dahulu. Semoga dengan saya me-remove dia akan mengurangi perasaan saya terhadapnya.
Faktor lainnya adalah, saya sudah dalam puncak lelah. Saya tahu bukan pertama kali saya mengatakan hal seperti ini, saya hanya bisa melihat apa yang akan terjadi nanti. Saya tidak akan membayangkan apa-apa lagi. Saya hanya berharap dia tidak menambahkan saya sebagai teman lagi di Facebook atapun di Twitternya.
Yah saya lelah, empat tahun tanpa perkembangan. Saya sudah cukup “makan ati” dengan segala tidakan yang dia lakukan. Saya pun sampai saat ini belum dapat menerka apakah mody-nya sedang baik atau tidak, sedang ingin diganggu atau tidak, sedang serius atau tidak. Saya sedih sekali. Saya belum dapat mengenalnya, saya hanya bisa mengaguminya dari jauh. Saya sedih, ia tidak pernah peka dengan isi hati saya. Saya juga sangat sedih dia tidak pernah menganggap saya orang yang spesial.
Menurut sahabat-sahabat saya, semua akan indah pada waktunya. Yah, saya percaya kalian. Dan terima kasih kalian sudah memperdulikan saya. Kalian telah mengembalikan semangat saya. Walaupun kalian tidak mengenalnya tetapi kalian telah membantu daya. Saya hanya ingin meminta maaf apabila suatu saat saya merengek kepada kalian karena saya merindukannya. Semuanya itu butuh proses yang panjang. Sekali lagi semoga saya dapat mengikuti proses tersebut dengan baik. Saya tetap butuh dukungan kalian sahabat-sahabatku.
Yang pasti saya akan selalu menunggu seorang lelaki yang dapat membuat saya menyingkirkan bayangannya.
Shock? Pasti. Rasanya dunia ini ingin saya bakar. Saking kesalnya, saya pun menangis sejadi-jadinya di dalam kamar. Betapa ingin rasanya saya bilang kepadanya kalau dia tidak perlu susah mencari perempuan, ada saya disini. Namun, dia sekalipun tidak pernah melihat saya. Tak terasa bantal yang saya tiduri sudah basah oleh air mata saya. Dengan segera saya meraih Handphone saya dan saya melakukan hal gila. Saya terpaksa me-remove dia, baik di Facebook maupun di Twitter. Saya tidak mau berhubungan lagi dengan dia. Apalagi mencari tahu kabarnya. Keputusan ini saya ambil karena saya lebih baik tidak mengetahui apa-apa dari pada saya harus merasakan sakit yang lebih lagi apabila suatu saat saya melihat statusnya telah berpacaran. Sebelum itu terjadi saya harus melupakan dia terlebih dahulu. Semoga dengan saya me-remove dia akan mengurangi perasaan saya terhadapnya.
Faktor lainnya adalah, saya sudah dalam puncak lelah. Saya tahu bukan pertama kali saya mengatakan hal seperti ini, saya hanya bisa melihat apa yang akan terjadi nanti. Saya tidak akan membayangkan apa-apa lagi. Saya hanya berharap dia tidak menambahkan saya sebagai teman lagi di Facebook atapun di Twitternya.
Yah saya lelah, empat tahun tanpa perkembangan. Saya sudah cukup “makan ati” dengan segala tidakan yang dia lakukan. Saya pun sampai saat ini belum dapat menerka apakah mody-nya sedang baik atau tidak, sedang ingin diganggu atau tidak, sedang serius atau tidak. Saya sedih sekali. Saya belum dapat mengenalnya, saya hanya bisa mengaguminya dari jauh. Saya sedih, ia tidak pernah peka dengan isi hati saya. Saya juga sangat sedih dia tidak pernah menganggap saya orang yang spesial.
Menurut sahabat-sahabat saya, semua akan indah pada waktunya. Yah, saya percaya kalian. Dan terima kasih kalian sudah memperdulikan saya. Kalian telah mengembalikan semangat saya. Walaupun kalian tidak mengenalnya tetapi kalian telah membantu daya. Saya hanya ingin meminta maaf apabila suatu saat saya merengek kepada kalian karena saya merindukannya. Semuanya itu butuh proses yang panjang. Sekali lagi semoga saya dapat mengikuti proses tersebut dengan baik. Saya tetap butuh dukungan kalian sahabat-sahabatku.
Yang pasti saya akan selalu menunggu seorang lelaki yang dapat membuat saya menyingkirkan bayangannya.


2 Response to the hardest part
:")
hhehehhe.....lo mesti tau da...
Post a Comment