Rest in Peace

0 comments
Semua yang bernyawa pasti akan kembali ke pada-Nya.
Dia lah sang pencipta alam, apabila Ia berkehendak, maka semua akan terjadi.
Begitupula maut.
Satu kata yang membuat saya bergidik jika mendengarnya.


Postingan ini saya dedikasikan untuk salah satu teman baik saya di SMA, namanya Evita Cornelis. Dia sebenarnya junior saya, tapi dulu kami deket, cukup dekat. Kedekatan kami bermula saat Firda, junior saya memperkenalkan saya pada sosok Evita, sebelum dikenalin saya sebenernya sudah tahu yang mana Evita, dia salah satu Group Vocal di SMA. Firda bilang Evita itu temen sekelasnya Rifki, jadi mungkin saya bisa dapet info tentang Rifki dari dia. Saya sendiri hanya kenalan via ebuddy, baru ketemu langsung 6 bulan kemudian pas saya main ke sekolah. Firda benar, Evita emang adik kelas paling baik. Dia selalu memberikan informasi terkini mengenai pujaan hati saya itu maklum pas Rifki kelas 3 kan saya sudah lulus jadi saya mesti tahu kabarnya dia.

Evita bisa dibilang teman baiknya Rifki. Mereka dekat banget, saking deketnya malah mereka selalu berantem. Saya pernah diberikan foto editan mereka berdua yang mereka berdua edit, kemudian mereka saling ejek. Saya pernah jeles loh gara-gara mereka deket banget, tapi cuma dalam hati saja marahnya. Namun, karena kedekatan itu saya bisa tahu bagaimana kelakuan Rifki di kelas, saya bisa tahu Rifki suka sama siapa, dan saya juga jadi tahu siapa penggemar Rifki itu siapa saja, semua karena Evita. Dia pemberi kabar yang baik.

Semenjak itu kita jadi deket, bukan hanya soal Rifki aja, tapi soal lainnya juga. Dia juga banyak cerita masalah sekolah, guru-guru, tugas2nya dan masih banyak lagi. Sampai suatu ketika, saya akhirnya tahu bahwa Evita suka sama Rifki. Kalo ada yang enggak percaya benci jadi cinta, yah itu dia si Evita. Saya pun pernah menyuruh Evita untuk memenangkan hatinya Rifki, dia bilang Rifki buat saya saja. Saya sempat berfikir kalau mungkin suatu hari Rifki dapat membuka mata dan suka sama Evita -bukan sebagai sahabat. Saja juga sempat berfikir daripada Rifki akhirnya sama orang yang enggak saya kenal, mendingan sama dia. Namun, semua itu sekali lagi hanya pikiran saya.

Saya mulai lost contact sama dia setelah dia pindah ke Padang, di kuliah kedokteran disana. setahun kemudian saya punya twitternya dia, saya sempet nanya2 kabar dia. Dia bilang dia sibuk kuliah dan bla bla bla. Saya enggak tahu lagi apakah dia masih suka sama Rifki atau tidak, tanpa cerita soal Rifki dia tiba-tiba ngasih saran ke saya supaya cepet move on. Okey, cukup waktu itu saya cuma bilang susah. Sejak itu saya enggak pernah membahas itu begitupun dia.

Tadi pagi, Firda sms yang sontak membuat saya blank. Saya sempat enggak percaya kalau Evita meninggal. Ya Allah kenapa cepet banget dia Engkau panggil umurnya masih 20 tahun. Firda bilang Evita sakit, otak kanannya bermasalah. Dan saya pun menyesal kenapa enggak nengokin dia, saya kira waktu lihat mention si firda ke Rifki, Evita cuma sakit biasa. Eh enggak taunya...

Vita...maaf enggak sempet jenguk. Kalau aku punya banyak salah sama kamu, tolong dimaafkan ya Vit. Semoga amal ibadah kamu diterima disisi Allah SWT, Amiin :'(

ini foto mendiang Evita

Selamat Jalan Sahabat!!


If you like this post, please share it!
Digg it StumbleUpon del.icio.us Google Yahoo! reddit

No Response to "Rest in Peace"